Jumat, 24 April 2015

[046] Al Ahqaaf Ayat 007

««•»»
Surah Al Ahqaaf 7

وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
««•»»
wa-idzaa tutlaa 'alayhim aayaatunaa bayyinaatin qaala alladziina kafaruu lilhaqqi lammaa jaa-ahum haadzaa sihrun mubiinun
««•»»
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang menjelaskan, berkatalah orang-orang yang mengingkari kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka: "Ini adalah sihir yang nyata".
««•»»
When Our manifest signs are recited to them, the faithless say of the truth when it comes to them: ‘This is plain magic.’
««•»»

Ayat ini menerangkan sikap orang-orang musyrik ketika Rasulullah saw. membacakan ayat-ayat Alquran kepada mereka. Mereka mengatakan, "Ayat ayat Alquran itu adalah sihir yang dibacakan oleh Muhammad sebagai tukang sihir". Tukang sihir memang biasa mengada-adakan kebohongan dan menyihir orang lain untuk mencapai maksudnya. Dalam ayat yang lain diterangkan tuduhan orang-orang musyrik terhadap Alquran bahwa Alquran itu adalah mimpi yang kalut yang diada-adakan dan Muhammad adalah seorang penyair.

Allah SWT. berfirman:
بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ فَلْيَأْتِنَا بِآيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ الْأَوَّلُونَ
Bahkan mereka berkata (pula), "(Alquran itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagaimana Rasul-rasul yang telah lalu diutus".
(QS. Al Anbiyaa [21]:5)

Orang-orang musyrik menuduh Muhammad sebagai tukang sihir karena menurut mereka, Abul Walid pernah disihirnya. Maka oleh karena pengaruh sihir Muhammad itu, ia menyatakan kekagumannya terhadap ayat-ayat Alquran yang dibacakan Rasulullah kepada mereka.

Pada suatu ketika, sebelum Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, para pemimpin Quraisy telah berkumpul untuk merundingkan cara menundukkan Rasulullah. Setelah mereka berbincang-bincang, akhirnya mereka sepakat mengutus Abul Walid, seorang sastrawan Arab yang jarang ada bandingannya waktu itu kepada Rasulullah, untuk meminta kepada Rasulullah agar berhenti menyampaikan risalahnya. Sebagai jawaban, Rasulullah membaca surah 41 (Fussilat) dari awal sampai akhir. Abul Walid terpesona mendengar pembacaan ayat itu, ia termenung memikirkan ketinggian isi dan keindahan gaya bahasanya. Kemudian ia langsung kembali kepada kaumnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Rasulullah.

Setelah Abul Walid kembali, ia ditanya oleh kaumnya tentang hasil usahanya, mereka heran, mengapa Abul Walid bermuram durja. Abul Walid menjawab, "Aku telah datang kepada Muhammad dan ia menjawab dengan membacakan ayat-ayat Alquran kepadaku. Aku belum pernah mendengar kata-kata yang seindah itu. Tetapi perkataan itu bukanlah syair, bukan sihir dan bukan pula kata-kata ahli tenung. Sesungguhnya Alquran itu ibarat pohon yang daunnya rindang, akarnya terhunjam ke dalam tanah, susunan kata-katanya manis dan enak didengar. Alquran itu bukanlah kata-kata manusia. Ia adalah tinggi dan tidak ada yang dapat mengatasinya.

Mendengar jawaban Abul Walid itu, kaumnya menuduh Abul Walid telah berkhianat dan cenderung menyukai kepada agama Islam karena telah kena sihir oleh Muhammad saw.

Dari sikap Abul Walid setelah mendengar ayat-ayat Alquran dan sikap orang-orang musyrik Quraisy itu kepada Abul Walid, dapat diambil kesimpulan bahwa sebenarnya hati mereka telah mengakui kebenaran Alquran, telah mengagumi isi dan gaya bahasanya, namun ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk mengucapkan dan menyatakan kebenaran itu. Abul Walid seorang mengagumi dari gaya bahasanya, namun ada suatu yang menghalangi yang mereka banggakan keahliannya dalam sastra dan bahasa Arab selama ini tidak berkutik sedikit pun dan terpesona mendengarkan ayat-ayat Alquran. Bagaimana halnya dengan mereka yang jauh lebih rendah pengetahuannya dari Abul Walid? Karena tidak ada suatu alasan pun yang dapat mereka kemukakan dan untuk menutupi kelemahan mereka, maka mereka langsung saja menuduh bahwa Alquran itu adalah sihir yang berbentuk syair dan Muhammad itu adalah tukang sihir yang menyihir orang dengan ucapan-ucapan yang berbentuk syair.

Dalam ayat yang lain, diterangkan bahwa sebab-sebab yang mendorong orang orang musyrikin, tidak mau mengakui kebenaran Alquran sekalipun hati mereka sendiri telah mengakuinya, ialah kefanatikan mereka terhadap kepercayaan nenek moyang mereka.

Allah SWT. berfirman:
بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ
Bahkan mereka berkata, "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.
(QS. Az Zukhruf [43]:22)

Di samping kefanatikan ini, mereka juga khawatir akan tergesernya kedudukan mereka sebagai pemimpin suku atau kabilah, seandainya mereka menyatakan isi hati mereka.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan apabila dibacakan kepada mereka) kepada penduduk Mekah (ayat-ayat Kami) yakni Alquran (yang menjelaskan) atau yang jelas keadaannya (berkatalah orang-orang yang ingkar) di antara mereka (kepada kebenaran) kepada Alquran (ketika kebenaran itu datang kepada mereka, "Ini adalah sihir yang nyata") jelas sihirnya.
««•»»
And when Our signs, the Qur’ān, are recited to them, namely, [to] the people of Mecca, being clear signs, manifest [signs] (bayyinātin is a circumstantial qualifier), those who disbelieve, from among them, say of the truth, that is, the Qur’ān, when it comes to them, ‘This is plain sorcery!’, clear and evident [sorcery].
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 6][AYAT 8]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
7of35
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=46&tAyahNo=7&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#46:7

[046] Al Ahqaaf Ayat 006

««•»»
Surah Al Ahqaaf 6

وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ
««•»»
wa-idzaa husyira alnnaasu kaanuu lahum a'daa-an wakaanuu bi'ibaadatihim kaafiriina
««•»»
Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.
««•»»
When mankind are mustered [on Judgement’s Day] they will be their enemies, and they will disavow their worship.
««•»»

Ayat ini menerangkan keadaan orang-orang musyrik di akhirat nanti dan berhala-berhala yang mereka sembah Pada saat semua man usia telah dibangkitkan dari kubur dan berkumpul untuk berhisab, maka berhala-berhala, dewa-dewa dan sembahan-sembahan yang lain yang mereka sembah selain Allah itu mengingkari perbuatan orang-orang musyrik yang menyembah mereka dengan mengatakan, "Kami tidak pernah memerintahkan agar mereka menyembah kaini, kami tidak mengetahui apa yang mereka lakukan terhadap kaini, bahkan kami tidak mengetahui sedikitpun bahwa mereka telah menyembah kami karena kami ini adalah benda-benda mati, tidak dapat melihat, mendengar, berkata, apalagi memperkenankan doa-doa orang-orang yang berdoa kepada kami.

Firman Allah SWT. yang searti dengan ini, ialah:
وَقَالَ إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةَ بَيْنِكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ
Berkata Ibrahim, "Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu semhah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di Hari Kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu melaknati sebahagian (yang lain) dan tempat kembalimu ialah neraka dan sekali-kali tak ada bagimu para penolong pun.
(QS. Al Ankabut [29]:25)

Dan firman Allah SWT.:
وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا  •  كَلَّا سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا
Mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.
(QS. Maryam [19]:81-82)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan apabila manusia dikumpulkan pada hari kiamat niscaya sesembahan-sesembahan itu) berhala-berhala itu (terhadap mereka) yang menyembahnya (menjadi musuh mereka dan sesembahan-sesembahan itu terhadap penyembahan) para penyembahnya (ingkar) menyangkalnya.
««•»»
And when mankind are gathered, they, the idols, will be enemies to them, to those who had worshipped them, and they will deny, they will disavow, their worship, the worship of those who had worshipped them.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 5][AYAT 7]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
6of35
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=46&tAyahNo=6&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#46:6

[046] Al Ahqaaf Ayat 005

««•»»
Surah Al Ahqaaf 5

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ
««•»»
waman adhallu mimman yad'uu min duuni allaahi man laa yastajiibu lahu ilaa yawmi alqiyaamati wahum 'an du'aa-ihim ghaafiluuna
««•»»
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do'a) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do'a mereka?
««•»»
Who is more astray than him who invokes besides Allah such as would not respond to him until the Day of Resurrection, and who are oblivious of their invocation?
««•»»

Dalam ayat ini Allah SWT. menerangkan bahwa orang-orang musyrik yang menyembah berhala tanpa alasan yang benar itu adalah orang yang sesat karena mereka menyembah sesuatu yang tidak dapat berbuat, melihat, mendengar, apalagi memperkenankan doa orang-orang yang berdoa kepadanya. Hal itu tidak dapat dilakukannya di dunia dan di akhirat tentu lebih tidak dapat dilakukannya. Berhala-berhala itu sebenarnya adalah batu-batu mati atau kayu yang dipahat oleh manusia sendiri.

Oleh karena itu, maka mereka tidak dapat mendengar atau memahami dan memperhatikan orang-orang yang berdoa kepadanya. Orang yang benar adalah orang yang menganut akidah yang benar pula, yaitu akidah Tauhid, akidah yang membenarkan orang menyembah hanya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pencipta, Maha Menentukan segala sesuatu, yang membimbing manusia ke jalan kebahagiaan di dunia dan di akhirat nanti.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan siapakah) Istifham atau kata tanya ini menunjukkan makna negatif, yakni tidak ada seorang pun (yang lebih sesat daripada orang yang menyeru) yang menyembah (selain Allah) (yang tidak dapat memperkenankan doanya sampai hari kiamat) yang dimaksud adalah berhala-berhala yang menjadi sesembahan mereka, sedikit pun dan untuk selamanya tidak akan dapat memperkenankan apa yang diminta oleh para penyembahnya (dan mereka terhadap seruan para penyembahnya) yakni penyembahan yang dilakukan oleh para penyembahnya (lalai) karena berhala-berhala itu adalah benda mati dan tidak berakal.
««•»»
And who is (man here is interrogative but meant [rhetorically] as a negation: in other words, ‘no one is’) further astray than him who invokes, [him who] worships, besides God, that is to say, other than Him, such as would not respond to him [even] until the Day of Resurrection — these are the idols, who never answer those who worship them in anything that they ask for — and who are heedless of their supplication?, their worship, because they are inanimates that possess no [faculty of] comprehension.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 4][AYAT 6]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
5of35
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=46&tAyahNo=5&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#46:5

[046] Al Ahqaaf Ayat 004

««•»»
Surah Al Ahqaaf 4

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
««•»»
qul ara-aytum maa tad'uuna min duuni allaahi aruunii maatsaa khalaquu mina al-ardhi am lahum syirkun fii alssamaawaati iituunii bikitaabin min qabli haadzaa aw atsaaratin min 'ilmin in kuntum shaadiqiina
««•»»
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al Qur'an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang- orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar"
««•»»
Say, ‘Tell me about what you invoke besides Allah. Show me what [part] of the earth have they created. Do they have any share in the heavens? Bring me a scripture [revealed] before this, or some vestige of [divine] knowledge, should you be truthful.’
««•»»

Setelah Allah SWT. menegaskan bahwa Dialah Tuhan yang berhak disembah, Dialah Tuhan yang Maha Pengasih Maha Penyayang lagi Maha Adil dan telah menegaskan tentang adanya hari pembalasan.

Yang menunjukkan kesalahan dan kebatalan akidah orang-orang musyrik yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah. Yang memerintahkan kepada Rasul-Nya Muhammad saw. agar Muhammad saw mengatakan kepada orang orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah sebagai berikut,

"Hai orang-orang musyrik, terangkanlah kepadaku tentang berhala-berhala yang kamu sembah, setelah kamu memperhatikan kejadian langit dan bumi beserta yang ada di dalamnya, setelah memperhatikan hukum-hukum yang berlaku pada bend! benda angkasa, alam semesta sejak dari yang sekecil-kecilnya sampai kepada yang paling besar, sejak dari yang nampak sampai kepada yang tidak nampak, sejak dari yang halus sampai kepada yang kasar, juga setelah kamu memperhatikan kejadian hewan, tumbuh-tumbuhan, sampai kepada kejadian diri kamu sendiri, yang semuanya itu diciptakan dengan rapi, indah, berfaedah dan penuh hikmah. Apakah ada satu bagian dari yang ada di bumi ini biarpun bagian yang kecil saja, yang telah diciptakan oleh berhala-berhala itu sehingga ia layak dan berhak disembah? Atau apakah ia telah menciptakan sesuatu yang ada di langit bersama-sama dengan Allah?"

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang-orang musyrik sanggup membuktikan dengan dalil-dalil yang masuk akal bahwa berhala-berhala itu berhak disembah di samping Allah karena mereka tidak dapat menunjukkan satu benda kecil saja pun dari benda-benda yang ada di bumi ini yang telah diciptakan berhala-berhala itu Bahkan yang terbukti ialah berhala-berhala itu sendiri dibuat dan diadakan oleh mereka sendiri.

Akhir ayat menegaskan bahwa di dalam kitab-kitab suci yang pernah diturunkan Allah kepada Rasul-rasul-Nya pun tidak terdapat satu keterangan pun yang menerangkan bahwa berhala-berhala itu harus disembah di samping Allah. Begitu juga dalam suatu ilmu yang dipusakakan oleh orang-orang dahulu pun tidak terdapat keterangan yang boleh dijadikan dasar bagi penyembahan terhadap berhala.

Hal ml diperintahkan Allah menyampaikannya kepada orang-orang musyrik, "Hal kaum musyrik, seandainya kepercayaan menyembah berhala itu adalah benar, cobalah kemukakan satu ayat saja dari ayat-ayat yang terdapat dalam kitab-kitab suci yang diturunkan sebelum Alquran yang membenarkan kepercayaanmu itu, atau pengetahuan-pengetahuan orang-orang purbakala yang ada pada kamu yang membenarkan kepercayaan syirik itu.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku) ceritakanlah oleh kalian kepadaku (tentang apa yang kalian seru) kalian sembah (selain Allah) yakni berhala-berhala; menjadi Maf`ul Awwal (perlihatkanlah kepadaku) ceritakanlah oleh kalian kepadaku (apakah yang telah mereka ciptakan) menjadi Maf`ul kedua (dari bumi ini) lafal ayat ini berkedudukan menjadi Maf`ul Tsani (atau adakah mereka berserikat) artinya, mempunyai andil (dalam) penciptaan (langit) bersama dengan Allah;

lafal Am di sini bermakna Hamzah atau kata tanya yang menunjukkan makna ingkar. (Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum ini) sebelum Alquran ini (atau peninggalan) yakni sisa-sisa (dari pengetahuan) yang ditemukan dari orang-orang terdahulu, yang hal tersebut membenarkan pengakuan kalian bahwa menyembah berhala itu dapat mendekatkan diri kalian kepada Allah? (jika kalian adalah orang-orang yang benar") di dalam pengakuan kalian.
««•»»
Say: ‘Have you considered, [say] Inform me [about], what you invoke, [what] you worship, besides God?, namely, the idols (min dūni’Llāhi, constitutes the first object [of the verb]). Show me — inform me — (arūnī, [repeated] for emphasis), what they have created (mādhā khalaqū, the second object) of the earth (mina’l-ardi, the explication of mā, ‘what [part]’). Or do they have any share, any partnership, in, the creation of, the heavens?, with God? (am, ‘or’, has the significance of the [rhetorical interrogative] hamza of denial). Bring me a scripture, [that has been] revealed, before this, Qur’ān, or some vestige, some remnant, of knowledge, transmitted from the ancients confirming the soundness of your claim that your worship of the idols brings you closer to God, if you are truthful’, in your claim.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 3][AYAT 5]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
4of35
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=46&tAyahNo=4&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#46:4

[046] Al Ahqaaf Ayat 003

««•»»
Surah Al Ahqaaf 3

مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ
««•»»
maa khalaqnaa alssamaawaati waal-ardha wamaa baynahumaa illaa bialhaqqi wa-ajalin musamman waalladziina kafaruu 'ammaa undziruu mu'ridhuuna
««•»»
Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.
««•»»
We did not create the heavens and the earth and whatever is between them except with reason and for a specified term. Yet the faithless are disregardful of what they are warned.
««•»»

Setelah Allah SWT. menegaskan bahwa Alquran itu berasal daripada Nya, bukan buatan Muhammad, Dia menerangkan bahwa Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi beserta semua yang ada di dalamnya dengan maksud dan tujuan yang benar, bukan dengan sia-sia, tanpa maksud dan tujuan. Dalam ayat lain diterangkan bahwa di antara tujuan Allah SWT. menciptakan bumi dan semua yang ada padanya ialah untuk kepentingan dan keperluan manusia.

Allah SWT. berfirman:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.
(QS. Al Baqarah [2]:29)

Dalam ayat yang lain diterangkan bahwa Allah SWT. menjadikan langit dan bumi, bukanlah untuk menimbulkan kelaliman dan kebinasaan, tetapi untuk melahirkan dan membuktikan kebenaran serta keadilan. Dalam menyatakan keadilan ini, Dia membedakan antara orang yang berbuat baik dan orang yang berbuat buruk atau jahat, baik dalam sika-Nya terhadap mereka, maupun dalam memberi balasan kepada mereka, tentang amal perbuatannya.

Allah SWT. berfirman:
وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya dan mereka tidak akan dirugikan".
(QS. Al Jathiyah [45]:32)

Karena itu, Allah SWT. menciptakan langit dan bumi untuk waktu yang ditentukan-Nya sehingga dalam masa itu ada kesempatan bagi manusia melakukan segala sesuatu yang baik baginya, sesuai dengan ketentuan ketentuan Allah agar ia dapat menikmati kebahagiaan hidup yang hakiki. Di samping itu, sesuai dengan ikhtiar yang diberikan Allah kepadanya, ada pula manusia yang melakukan perbuatan-perbuatan yang menyalahi ketentuan ketentuan Allah. Maka untuk mereka, Allah SWT. menetapkan ketentuan yaitu memberi balasan kepada manusia setimpal dengan perbuatannya.

Karena Allah SWT. telah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar, maka untuk menunjukkan keadilan-Nya itu dan untuk membuktikan keadilan penciptaan keduanya, diadakanlah hari pembalasan. Dengan adanya hari pembalasan itu, dapatlah dibalas dengan adil segala perbuatan manusia. Hari pembalasan itu terjadi setelah habis atau berakhirnya masa yang ditentukan bagi langit dan bumi itu. Pada hari pembalasan itu, ditetapkanlah pahala yang diperoleh orang-orang yang melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan-Nya berupa kebahagiaan abadi yang diperolehnya di dalam surga, sedangkan bagi orang-orang yang mengingkari perintah-perintah Allah dan melanggar larangan-larangan-Nya adalah kesengsaraan dan kehinaan yang dialaminya di dalam neraka.

Pada akhir ayat ini diterangkan kelalaian dan keingkaran orang-orang musyrik terhadap seruan dan peringatan yang telah disampaikan kepada mereka. Diterangkan: sekalipun kepada mereka telah diperingatkan dan disampaikan dalil-dalil dan bukti-bukti yang kuat tentang kebenaran Alquran-sebagai firman Allah SWT. pengangkatan Muhammad saw sebagai Rasul Allah dan kebenaran agama yang dibawa Muhammad saw, namun mereka tetap dalam kemusyrikan, tetap berpaling dari peringatan itu dengan mengingkari perintah-perintah Allah dan melanggar larangan-larangan-Nya, bahkan mereka menolak-dalil-dalil dan bukti-bukti itu tanpa alasan yang benar. Mereka seakan-akan orang yang pekak, bisu, beta dan tidak berakal sehingga tidak dapat mendengar dan memahami seruan dan peringatan itu. Mereka tidak mau percaya bahwa kelalaian dan keingkaran mereka itu akan berakibat penyesalan yang tidak. putus-putusnya di akhirat kelak, di samping mereka mengalami siksaan yang amal berat.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan) dengan tujuan (yang benar) guna menunjukkan kekuasaan dan keesaan Kami (dan dalam waktu yang ditentukan) bagi kemusnahannya, yaitu hingga hari kiamat. (Dan orang-orang yang kafir; terhadap apa yang diperingatkan kepada mereka) berupa dipertakuti dengan siksa (mereka berpaling)
««•»»
We have not created the heavens and the earth and all that is between them except, as a creation, in truth, so that it may be an indication of Our power and Our Oneness, and for an appointed term, until [the point of] their annihilation on the Day of Resurrection. Yet those who disbelieve are disregardful of what they are warned, [of what] they are threatened with in the way of [impending] chastisement.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 2][AYAT 4]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
3of35
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=46&tAyahNo=3&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#46:3

[046] Al Ahqaaf Ayat 002

««•»»
Surah Al Ahqaaf 2

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
««•»»
tanziilu alkitaabi mina allaahi al'aziizi alhakiimi
««•»»
Diturunkan Kitab ini dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
««•»»
The [gradual] sending down of the Book is from Allah, the All-mighty, the All-wise.
««•»»

Allah SWT. menegaskan bahwa Alquran ini benar-benar berasal daripada Nya, tidak ada keraguan sedikitpun tentang itu, diturunkan kepada Nabi Muhammad Rasul-Nya, berisi ketentuan-ketentuan, bimbingan dan pedoman hid up bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti. Allah SWT. yang menurunkan Alquran kepada Muhammad saw itu Maha perkasa, tidak ada sesuatu pun yang dapat menandingi-Nya. Dia Maha Bijaksana. Semua perintah, larangan dan tindakan-Nya adalah dengan sifat, kegunaan dan faedah dari yang diciptakan-Nya itu dan tidak lepas dari hikmah penciptaan alam seluruhnya.

Karena Alquran itu benar-benar dari Allah SWT. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, maka hendaklah setiap manusia beriman kepada Nya, mengakui kebenaran dan mengamalkan semua isinya. Beriman kepada Alquran berarti keharusan beriman pula kepada Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah, yaitu dengan mengikuti semua sunah yang berasal dari-Nya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Diturunkan Alkitab ini) yaitu Alquran; lafal ayat ini menjadi Mubtada (dari Allah) menjadi Khabar dari Mubtada (Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya (lagi Maha Bijaksana) di dalam perbuatan-Nya.
««•»»
The revelation of the Book, the Qur’ān (tanzīlu’l-kitābi, the subject) is from God (mina’Llāhi, the predicate thereof), the Mighty, in His kingdom, the Wise, in His actions.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 1][AYAT 3]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
2of35
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=46&tAyahNo=2&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#46:2

[046] Al Ahqaaf Ayat 001

««•»»
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
««•»»
bismi allaahi alrrahmaani alrrahiimi
««•»»
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
««•»»
In the Name of Allah, the All-beneficent, the All-merciful.
««•»»

Surah Al Ahqaaf 1
حم
««•»»
haa-miim
««•»»
Haa Miim {1338}.
{1338} Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.
««•»»
Ḥā, Mīm,
««•»»
Ha mim, termasuk huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan beberapa surah Alquran. Ada dua hal yang perlu dibicarakan tentang huruf-huruf abjad yang disebutkan pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim itu, yaitu apa yang dimaksud dengan huruf ini, dan apa hikmahnya menyebutkan huruf-huruf ini?
Tentang soal pertama, maka para mufassir berlainan pendapat, yaitu:
  1. Ada yang menyerahkan saja kepada Allah, dengan arti mereka tidak mau menafsirkan huruf-huruf itu. Mereka berkata, "Allah sajalah yang mengetahui maksudnya." Mereka menggolongkan huruf-huruf itu ke dalam golongan ayat-ayat mutasyabihat.
  2. Ada yang menafsirkannya. Mufassirin yang menafsirkannya ini berlain-lain pula pendapat mereka, yaitu:
  • Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah isyarat (keringkasan dari kata-kata), umpamanya Alif Lam Mim. Maka "Alif" adalah keringkasan dari "Allah", "Lam" keringkasan dari "Jibril", dan "Mim" keringkasan dari Muhammad, yang berarti bahwa Alquran itu datangnya dari Allah, disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad. Pada Alif Lam Ra; "Alif" keringkasan dari "Ana", "Lam" keringkasan dari "Allah" dan "Ra" keringkasan dari "Ar-Rahman", yang berarti: Saya Allah Yang Maha Pemurah.
  • Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah nama dari surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu.
  • Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad ini adalah huruf-huruf abjad itu sendiri. Maka yang dimaksud dengan "Alif" adalah "Alif", yang dimaksud dengan "Lam" adalah "Lam", yang dimaksud dengan "Mim" adalah "Mim", dan begitu seterusnya.
  • Huruf-huruf abjad itu untuk menarik perhatian.
Menurut para mufassir ini, huruf-huruf abjad itu disebut Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim, hikmahnya adalah untuk "menantang". Tantangan itu bunyinya kira-kira begini: Alquran itu diturunkan dalam bahasa Arab, yaitu bahasa kamu sendiri, yang tersusun dari huruf-huruf abjad, seperti Alif Lam Mim Ra, Ka Ha Ya Ain Shad, Qaf, Tha Sin dan lain-lainnya. Maka kalau kamu sekalian tidak percaya bahwa Alquran ini datangnya dari Allah dan kamu mendakwakan datangnya dari Muhammad, yakni dibuat oleh Muhammad sendiri, maka cobalah kamu buat ayat-ayat yang seperti ayat Alquran ini. Kalau Muhammad dapat membuatnya tentu kamu juga dapat membuatnya."

Maka ada "penantang", yaitu Allah, dan ada "yang ditantang", yaitu bahasa Arab, dan ada "alat penantang", yaitu Alquran. Sekalipun mereka adalah orang-orang yang fasih berbahasa Arab, dan mengetahui pula seluk-beluk bahasa Arab itu menurut naluri mereka, karena di antara mereka itu adalah pujangga-pujangga, penyair-penyair dan ahli-ahli pidato, namun demikian mereka tidak bisa menjawab tantangan Alquran itu dengan membuat ayat-ayat seperti Alquran. Ada juga di antara mereka yang memberanikan diri untuk menjawab tantangan Alquran itu, dengan mencoba membuat kalimat-kalimat seperti ayat-ayat Alquran itu, tetapi sebelum mereka ditertawakan oleh orang-orang Arab itu, lebih dahulu mereka telah ditertawakan oleh diri mereka sendiri.

Para mufassir dari golongan ini, yakni yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu disebut oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquran untuk menantang bangsa Arab itu, mereka sampai kepada pendapat itu adalah dengan "istiqra" artinya menyelidiki masing-masing surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu. Dengan penyelidikan itu mereka mendapat fakta-fakta sebagai berikut:
  1. Surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad ini adalah surah-surah Makiyah (diturunkan di Mekah), selain dari dua buah surah saja yang Madaniyah (diturunkan di Madinah), yaitu surah Al-Baqarah yang dimulai dengan Alif Lam Mim dan surah Ali Imran yang dimulai dengan Alif Lam Mim juga. Sedang penduduk Mekah itulah yang tidak percaya bahwa Alquran itu adalah dari Tuhan, dan mereka mendakwakan bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata.
  2. Sesudah menyebutkan huruf-huruf abjad itu ditegaskan bahwa Alquran itu diturunkan dari Allah, atau diwahyukan oleh-Nya. Penegasan itu disebutkan oleh Allah secara langsung atau tidak langsung. Hanya ada 9 surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu yang tidak disebutkan sesudahnya penegasan bahwa Alquran itu diturunkan dari Allah.
  3. Huruf-huruf abjad yang disebutkan itu adalah huruf-huruf abjad yang banyak terpakai dalam bahasa Arab.
Dari ketiga fakta yang didapat dari penyelidikan itu, mereka menyimpulkan bahwa huruf-huruf abjad itu didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim itu adalah untuk "menantang" bangsa Arab agar membuat ayat-ayat seperti ayat-ayat Alquran itu, bila mereka tidak percaya bahwa Alquran itu, datangnya dari Allah dan mendakwakan bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata sebagai yang disebutkan di atas. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa para mufassir yang mengatakan bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan Allah untuk "tahaddi" (menantang) adalah memakai tariqah (metode) ilmiah, yaitu "menyelidiki dari contoh-contoh, lalu menyimpulkan daripadanya yang umum". Tariqah ini disebut "Ath-Thariqat Al-Istiqra'iyah" (metode induksi).

Ada mufassir yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah-surah Alquranul Karim untuk menarik perhatian. Memulai pembicaraan dengan huruf-huruf abjad adalah suatu cara yang belum dikenal oleh bangsa Arab di waktu itu, karena itu maka hal ini menarik perhatian mereka.

Tinjauan terhadap pendapat-pendapat ini:

PERTAMA

Pendapat yang pertama yaitu menyerahkan saja kepada Allah karena Allah sajalah yang mengetahui, tidak diterima oleh kebanyakan mufassirin ahli-ahli tahqiq (yang menyelidiki secara mendalam). (Lihat Tafsir Al-Qasimi j.2, hal. 32)

Alasan-alasan mereka ialah:
  1. Allah sendiri telah berfirman dalam Alquran: بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ Artinya: Dengan bahasa Arab yang jelas. (QS. As Syu'ara' [26]:195). Maksudnya Alquran itu dibawa oleh Jibril kepada Muhammad dalam bahasa Arab yang jelas. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa ayat-ayat dalam Alquran itu adalah "jelas", tak ada yang tidak jelas, yang tak dapat dipahami atau dipikirkan, yang hanya Allah saja yang mengetahuinya.
  2. Di dalam Alquran ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Alquran itu menjadi petunjuk bagi manusia. Di antaranya firman Allah: ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ Artinya: Kitab Alquran ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah [2]:2); Firman-Nya lagi: وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ Artinya: "....dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al Baqarah [2]:97). Firman-Nya lagi: هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ Artinya: (Alquran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran [3]:138). Dan banyak lagi ayat-ayat yang menerangkan bahwa Alquran itu adalah petunjuk bagi manusia. Sesuatu yang fungsinya menjadi "petunjuk" tentu harus jelas dan dapat dipahami. Hal-hal yang tidak jelas tentu tidak dijadikan petunjuk.
  3. Dalam ayat yang lain Allah berfirman pula: وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (QS. Al-Qamar [54]:17,22,32, dan 40).
KE·DUA
  1. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad itu adalah keringkasan dari suatu kalimat. Pendapat ini juga banyak para mufassir yang tidak dapat menerimanya. Keberatan mereka ialah: tidak ada kaidah-kaidah atau patokan-patokan yang tertentu untuk ini, sebab itu para mufassir yang berpendapat demikian berlain-lainan pendapatnya dalam menentukan kalimat-kalimat itu. Maka di samping pendapat mereka bahwa Alif Lam Mim artinya ialah: Allah, Jibril, Muhammad, ada pula yang mengartikan "Allah, Latifun, Maujud" (Allah Maha Halus lagi Ada). (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur'anul Karim, hal. 73)
  2. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan beberapa surah ini adalah nama surah, juga banyak pula para mufassir yang tidak dapat menerimanya. Alasan mereka ialah: bahwa surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu kebanyakannya adalah mempunyai nama yang lain, dan nama yang lain itulah yang terpakai. Umpamanya surah Al-Baqarah, Ali Imran, Maryam dan lain-lain. Maka kalau betul huruf-huruf itu adalah nama surah, tentu nama-nama itulah yang akan dipakai oleh para sahabat Rasulullah dan kaum muslimin sejak dari dahulu sampai sekarang. Hanya ada empat buah surah yang sampai sekarang tetap dinamai dengan huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan surah-surah itu, yaitu: Surah Thaha, surah Yasin, surah Shad dan surah Qaf. (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur'anul Karim, hal. 73)
  3. Pendapat yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad itu sendiri, dan abjad-abjad ini didatangkan oleh Allah ialah untuk "menantang" (tahaddi). Inilah yang dipegang oleh sebahagian mufassirin ahli tahqiq. (Di antaranya: Az Zamakhsyari, Al Baidawi, Ibnu Taimiah, dan Hafizh Al Mizzi, lihat Rasyid Rida, Tafsir Al Manar jilid 8, hal. 303 dan Dr Shubhi As Salih, Mabahis Ulumi Qur'an, hal 235. Menurut An Nasafi: pendapat bahwa huruf abjad ini adalah untuk menantang patut diterima. Lihat Tafsir An Nasafi, hal. 9)
  4. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad ini adalah untuk "menarik perhatian" (tanbih) pendapat ini juga diterima oleh ahli tahqiq. (Tafsir Al Manar jilid 8 hal. 209-303)
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa "yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad yang disebutkan oleh Allah pada permulaan beberapa surat dari Alquran hikmahnya adalah untuk "menantang" bangsa Arab serta menghadapkan perhatian manusia kepada ayat-ayat yang akan dibacakan oleh Nabi Muhammad saw."

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Ha Mim) hanya Allah sajalah yang mengetahui arti dan maksudnya.
««•»»
Hā mīm: God knows best what He means by these [letters].
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 2]•
•[KEMBALI]•

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
1of35
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net

http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=46&tAyahNo=1&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
 http://al-quran.info/#46:1

[046] Al Ahqaaf 2of2

2of2
35 Verses • revealed at Meccan.
««•»»
»The surah that mentions the fatal lesion of the ancient people of ʿĀd who dwelled in the dune valley of Aḥqāf, whose prophet warned them to give up idolatry and worship only God, but to no avail. It takes its name from verse 21, where Aḥqāf is mentioned. It reflects one of the major themes of this surah: the inescapable punishment that awaits those who deny the truth and the Resurrection. Emphasis is placed on the fact that communities more established than the Meccans” have been destroyed, and that even the jinn believe in the Quran before the disbelievers of Mecca do. Finally, the Prophet is encouraged to be steadfast and await God’s judgement on the disbelievers.«

The surah is also known as: The Dune Valleys of al-Ahqaf, The Dunes, The Sand Dunes, The Sandy Plains, Winding Sand-tracts.
««•»»
•[AYAT 001]•[AYAT 002]•[AYAT 003]•[AYAT 004]•[AYAT 005]•[AYAT 006]•[AYAT 007]•[AYAT 008]•[AYAT 009]•[AYAT 010]•[AYAT 011]•[AYAT 012]•[AYAT 013]•[AYAT 014]•[AYAT 015]•[AYAT 016]•[AYAT 017]•[AYAT 018]•[AYAT 019]•[AYAT 020]•[AYAT 021]•[AYAT 022]•[AYAT 023]•[AYAT 024]•[AYAT 025]•[AYAT 026]•[AYAT 027]•[AYAT 028]•[AYAT 029]•[AYAT 030]•[AYAT 031]•[AYAT 032]•[AYAT 033]•[AYAT 034]•[AYAT 035]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
Sumber: Al-Quran (القرآن) — Online Quran Project — Translation and Tafsir
http://al-quran.info/#46


[046] Al Ahqaaf 1of2

1of2
35 Ayat • diturunkan di Mekah.
««•»»
Surah Al-Ahqaaf (Arab: الأحقاف ,"Bukit-Bukit Pasir") adalah surah ke-46 dalam al-Qur'an. Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 35 ayat. Dinamakan al-Ahqaaf yang berarti Bukit-Bukit Pasir diambil dari kata al-Ahqaf yang terdapat pada ayat 21 surah ini. Dalam ayat tersebut dan ayat-ayat sesudahnya diterangkan bahwa Nabi Hud telah menyampaikan risalahnya kepada kaumnya di al-Ahqaaf yang sekarang dikenal dengan ar-Rab'ul Khali, tetapi kaumnya tetap ingkar sekalipun mereka telah diberi peringatan pula oleh rasul-rasul yang sebelumnya. Hingga akhirnya Allah menghancurkan mereka dengan tiupan angin kencang. Hal ini adalah sebagai isyarat dari Allah kepada kaum musyrikin Quraisy bahwa mereka akan dihancurkan bila mereka tidak mengindahkan seruan Rasul.
««•»»

Pokok-Pokok Isi
  • Keimanan
  • Dalil-dalil dan bukti keesaan Allah dan bahwa penyembah-penyembah berhala adalah sesat.
  • Orang-orang mukmin akan mendapat kebahagiaan dan orang-orang kafir akan diazab.
  • Risalah Nabi Muhammad s.a.w. tidak hanya terbatas kepada umat manusia saja, tetapi juga kepada jin.
  • Hukum-hukum
  • Perintah kepada manusia supaya patuh kepada ibu bapak, memuliakannya dan mengerjakan apa yang diridhai Allah terhadapnya dan larangan menyakiti hatinya.
  • Kisah-kisah
  • Kisah Nabi Hud a.s. dan kaumnya.
  • Lain-lain
  • Orang yang mementingkan kenikmatan hidup duniawi saja akan merugi kelak di akhirat.
  • Orang-orang yang beriman kepada Allah dan beristiqamah dalam kehidupannya tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
 [KEMBALI][AYAT-AYAT]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
Referensi
http://id.wikipedia.org/wiki/Surah_Al-Ahqaf
Mukaddimah terjemahan Al Qur'an versi Departemen Agama RI