««•»»Surah Al Ahqaaf 7
وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
««•»»
wa-idzaa tutlaa 'alayhim aayaatunaa bayyinaatin qaala alladziina kafaruu lilhaqqi lammaa jaa-ahum haadzaa sihrun mubiinun
««•»»
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang menjelaskan, berkatalah orang-orang yang mengingkari kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka: "Ini adalah sihir yang nyata".
««•»»
When Our manifest signs are recited to them, the faithless say of the truth when it comes to them: ‘This is plain magic.’
««•»»
Ayat ini menerangkan sikap orang-orang musyrik ketika Rasulullah saw. membacakan ayat-ayat Alquran kepada mereka. Mereka mengatakan, "Ayat ayat Alquran itu adalah sihir yang dibacakan oleh Muhammad sebagai tukang sihir". Tukang sihir memang biasa mengada-adakan kebohongan dan menyihir orang lain untuk mencapai maksudnya. Dalam ayat yang lain diterangkan tuduhan orang-orang musyrik terhadap Alquran bahwa Alquran itu adalah mimpi yang kalut yang diada-adakan dan Muhammad adalah seorang penyair.
Allah SWT. berfirman:
بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ فَلْيَأْتِنَا بِآيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ الْأَوَّلُونَ
Bahkan mereka berkata (pula), "(Alquran itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagaimana Rasul-rasul yang telah lalu diutus".
(QS. Al Anbiyaa [21]:5)
Orang-orang musyrik menuduh Muhammad sebagai tukang sihir karena menurut mereka, Abul Walid pernah disihirnya. Maka oleh karena pengaruh sihir Muhammad itu, ia menyatakan kekagumannya terhadap ayat-ayat Alquran yang dibacakan Rasulullah kepada mereka.
Pada suatu ketika, sebelum Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, para pemimpin Quraisy telah berkumpul untuk merundingkan cara menundukkan Rasulullah. Setelah mereka berbincang-bincang, akhirnya mereka sepakat mengutus Abul Walid, seorang sastrawan Arab yang jarang ada bandingannya waktu itu kepada Rasulullah, untuk meminta kepada Rasulullah agar berhenti menyampaikan risalahnya. Sebagai jawaban, Rasulullah membaca surah 41 (Fussilat) dari awal sampai akhir. Abul Walid terpesona mendengar pembacaan ayat itu, ia termenung memikirkan ketinggian isi dan keindahan gaya bahasanya. Kemudian ia langsung kembali kepada kaumnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Rasulullah.
Setelah Abul Walid kembali, ia ditanya oleh kaumnya tentang hasil usahanya, mereka heran, mengapa Abul Walid bermuram durja. Abul Walid menjawab, "Aku telah datang kepada Muhammad dan ia menjawab dengan membacakan ayat-ayat Alquran kepadaku. Aku belum pernah mendengar kata-kata yang seindah itu. Tetapi perkataan itu bukanlah syair, bukan sihir dan bukan pula kata-kata ahli tenung. Sesungguhnya Alquran itu ibarat pohon yang daunnya rindang, akarnya terhunjam ke dalam tanah, susunan kata-katanya manis dan enak didengar. Alquran itu bukanlah kata-kata manusia. Ia adalah tinggi dan tidak ada yang dapat mengatasinya.
Mendengar jawaban Abul Walid itu, kaumnya menuduh Abul Walid telah berkhianat dan cenderung menyukai kepada agama Islam karena telah kena sihir oleh Muhammad saw.
Dari sikap Abul Walid setelah mendengar ayat-ayat Alquran dan sikap orang-orang musyrik Quraisy itu kepada Abul Walid, dapat diambil kesimpulan bahwa sebenarnya hati mereka telah mengakui kebenaran Alquran, telah mengagumi isi dan gaya bahasanya, namun ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk mengucapkan dan menyatakan kebenaran itu. Abul Walid seorang mengagumi dari gaya bahasanya, namun ada suatu yang menghalangi yang mereka banggakan keahliannya dalam sastra dan bahasa Arab selama ini tidak berkutik sedikit pun dan terpesona mendengarkan ayat-ayat Alquran. Bagaimana halnya dengan mereka yang jauh lebih rendah pengetahuannya dari Abul Walid? Karena tidak ada suatu alasan pun yang dapat mereka kemukakan dan untuk menutupi kelemahan mereka, maka mereka langsung saja menuduh bahwa Alquran itu adalah sihir yang berbentuk syair dan Muhammad itu adalah tukang sihir yang menyihir orang dengan ucapan-ucapan yang berbentuk syair.
Dalam ayat yang lain, diterangkan bahwa sebab-sebab yang mendorong orang orang musyrikin, tidak mau mengakui kebenaran Alquran sekalipun hati mereka sendiri telah mengakuinya, ialah kefanatikan mereka terhadap kepercayaan nenek moyang mereka.
Allah SWT. berfirman:
بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ
Bahkan mereka berkata, "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.
(QS. Az Zukhruf [43]:22)
Di samping kefanatikan ini, mereka juga khawatir akan tergesernya kedudukan mereka sebagai pemimpin suku atau kabilah, seandainya mereka menyatakan isi hati mereka.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
(Dan apabila dibacakan kepada mereka) kepada penduduk Mekah (ayat-ayat Kami) yakni Alquran (yang menjelaskan) atau yang jelas keadaannya (berkatalah orang-orang yang ingkar) di antara mereka (kepada kebenaran) kepada Alquran (ketika kebenaran itu datang kepada mereka, "Ini adalah sihir yang nyata") jelas sihirnya.
««•»»
And when Our signs, the Qur’ān, are recited to them, namely, [to] the people of Mecca, being clear signs, manifest [signs] (bayyinātin is a circumstantial qualifier), those who disbelieve, from among them, say of the truth, that is, the Qur’ān, when it comes to them, ‘This is plain sorcery!’, clear and evident [sorcery].
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 6]•[AYAT 8]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
7of35
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=46&tAyahNo=7&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#46:7
And when Our signs, the Qur’ān, are recited to them, namely, [to] the people of Mecca, being clear signs, manifest [signs] (bayyinātin is a circumstantial qualifier), those who disbelieve, from among them, say of the truth, that is, the Qur’ān, when it comes to them, ‘This is plain sorcery!’, clear and evident [sorcery].
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 6]•[AYAT 8]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
7of35
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=46&tAyahNo=7&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#46:7


