Sabtu, 27 Juni 2015

[046] Al Ahqaaf Ayat 010

««•»»
Surah Al Ahqaaf 10

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَكَفَرْتُمْ بِهِ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى مِثْلِهِ فَآمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
««•»»
qul ara-aytum in kaana min 'indi allaahi wakafartum bihi wasyahida syaahidun min banii israa-iila 'alaa mitslihi faaamana waistakbartum inna allaaha laa yahdii alqawma alzhzhaalimiina
««•»»
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Qur'an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang tersebut dalam) Al Qur'an lalu dia beriman {1387}, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim".
{1387} Yang dimaksud dengan seorang saksi dari Bani Israil ialah Abdullah bin salam. ia menyatakan keimanannya kepada Nabi Muhammad s.a.w. setelah memperhatikan bahwa di antara isi Al Quran ada yang sesuai dengan Taurat, seperti ketauhidan, janji dan ancaman, kerasulan Muhammad s.a.w., adanya kehidupan akhirat dan sebagainya.
««•»»
Say, ‘Tell me, if it is from Allah and you disbelieve in it, and a witness from the Children of Israel has testified to its like and believed [in it], while you are disdainful [of it]?’[1] Indeed Allah does not guide the wrongdoing lot.
[1] Ellipsis; the omitted phrase is, ‘who will be more astray than him who is in extreme defiance.’ See 41:52.
««•»»

Allah SWT. memerintahkan kepada Rasul-Nya agar mengatakan kepada orang-orang musyrik, "Hai orang-orang musyrik, bagaimana pendapatmu seandainya terbukti nanti bahwa Alquran itu benar-benar dari Allah SWT. Dengan kenyataan bahwa tidak seorangpun dapat menandinginya, terbuktilah nanti bahwa Alquran itu bukan sihir dan bukan pula diada adakan sebagaimana yang kamu tuduhkan itu. Akan tetapi, kamu tetap mendustakan dan mengingkarinya, sedangkan ada di antara Bani Israel yang lebih tahu dan lebih berpengalaman serta lebih pintar dan kamu semua mengaku kebenarannya. Apakah yang akan di buat Tuhan terhadapmu ? Bukankah Tuhan akan mengazab kamu karena keingkaran dan kesombongan kamu ini dan Dia tidak akan memberi petunjuk sehingga kamu semuanya akan menjadi orang yang paling sesat di dunia ini?".

Yang dimaksud dengan saksi Bani Israel, ialah Abdullah bin Salam, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Tirmizi, Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawaih dari Abdullah bin Salam sendiri,

Ia menyatakan
نزل في آيات من كتاب الله، نزلت في : وشهد شاهد من بني إسرائيل على نفسه، ونزل في : قل كفى بالله شهيدا بيني وبينكم ومن عنده علم الكتاب
"Allah telah menurunkan ayat-ayat Alquran tentang diriku. Diturunkan, tentang diriku ayat, wa syahida syahidun min Bani Israil `ala mis lihi dan ayat, Qul kafa billahi syahidan baini wa bainakum wa man indahu `ilmul kitab'
(Lihat Tafsir Al Maragi hal. 13, juz 26 jilid IX).

Pernyataan Abdullah bin Salam ini dikuatkan oleh hadis Rasulullah saw:
فقد أخرج البخاري ومسلم وغيرهما عن سعيد بن أبي وقاص قال: ما سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول لأحد يعني على الأرض إنه من أهل الجنة إلا لعبد الله بن سلام وفيه نزلت : وشهد شاهد من بني إسرائيل على مثله
Bukhari, Muslim dan imam-imam yang lain telah meriwayatkan dan Saad bin Abu Waqash, ia berkata, "Aku belum pernah mendengar" Rasulullah saw. mengatakan kepada seorang yang ada di muka bumi ini ia akan masuk surga, kecuali kepada Abdullah bin Salam;

dan berhubungan dengan dirinya turun ayat:
وشهد شاهد من بني إسرائيل على مثله

Dari ayat dan hadis-hadis di atas, dapat dipahami bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani yang benar-benar mengikuti Taurat dan Injil dan mau mengikuti cara-cara berpikir yang benar, pasti akan sampai kepada kesimpulan bahwa Alquran itu benar-benar dari Allah SWT. dan Muhammad saw. itu benar-benar utusan-Nya sebagaimana yang telah dilakukan oleh Abdullah bin Salam itu.

Abdullah bin Salam adalah seorang Yahudi penduduk kota Madinah. Ia mempelajari dan memahami isi Taurat dengan baik. Hasil pemahamannya itu sampai kepada kesimpulan bahwa akan datang nanti Nabi dan Rasul terakhir yang berasal dari Nabi Ibrahim a.s. dan dari anaknya Nabi Ismail a.s, di Jazirah Arab, yang membawa Alquran sebagai kitab yang diturunkan Allah kepadanya. Setelah Rasulullah saw hijrah ke Madinah, Abdullah memperhatikan `sifat-sifat Rasulullah dan ajaran yang disampaikannya berupa ayat-ayat Alquran yang diturunkan Allah kepadanya.

Ia mengamati sikap Rasulullah terhadap sesama manusia dan sikap para pengikutnya yang telah mendalami agama bani itu. Akhirnya ia berkesimpulan bahwa Rasulullah dan ajaran agama yang dibawanya itu mempunyai ciri yang sama dengan yang diisyaratkan Taurat yang telah dipelajari dan diamalkannya. Demikian pula sifat-sifat pengikut-pengikut agama bar! itu. Karena itu, ia menyatakan diri masuk Islam dan mengikuti Rasulullah saw.

Pada akhir ayat ini Allah SWT. menegaskan bahwa orang-orang musyrik itu sebenarnya adalah orang-orang yang sombong dan mengingkari ayat-ayat Allah. Hal ini berarti bahwa mereka telah menganiaya din mereka sendiri. Akibat sikap dan tindakan mereka itu, Allah SWT. tidak lagi memberikan bimbingan dan petunjuk kepada mereka, sesuai dengan Sunatullah bahwa Allah tidak akan memberikan bimbingan dan petunjuk kepada setiap orang zalim. Mereka mendapat kemurkaan Allah di dunia dan di akhirat.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku) ceritakanlah kepadaku, bagaimana pendapat kalian (jika ia) yakni jika Alquran itu (datang dari sisi Allah padahal kalian mengingkarinya) lafal Wakafartum Bihi merupakan jumlah Haliyah (dan seorang saksi dari Bani Israel mengakui kebenaran) yaitu Abdullah bin Salam (yang serupa dengan yang tersebut dalam Alquran) bahwasanya Alquran itu datang dari sisi Allah (lalu dia beriman) yakni saksi tersebut beriman kepada Alquran (sedangkan kalian menyombongkan diri) tidak mau beriman kepada Alquran. Sedangkan Jawab Syaratnya ialah `Bukankah kalau demikian kalian adalah orang-orang yang lalim`, hal ini disimpulkan dari pengertian ayat selanjutnya, (`Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.")
««•»»
Say: ‘Have you considered?, [say:] inform me, what will be your predicament, if it, the Qur’ān, is from God and you disbelieve in it (wa-kafartum bihi, the sentence is a circumstantial qualifier), and a witness from the Children of Israel has [already] testified, this was ‘Abd Allāh b. Salām, to the like of it, that is to say, to it [the Qur’ān], that it is from God, and he, the witness, has believed [in it], while you act with arrogance …’, you are disdainful of faith (the response to the conditional [‘if …’] is given [by implication] in what has been supplemented to it, in other words: ‘Would you not then be [considered] wrongdoers?’; this [understanding of the response] is indicated by [what follows]). Truly God does not guide wrongdoing folk’.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 9][AYAT 11]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
10of35
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=46&tAyahNo=10&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#46:10

[046] Al Ahqaaf Ayat 009

««•»»
Surah Al Ahqaaf 9

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ
««•»»
qul maa kuntu bid'an mina alrrusuli wamaa adrii maa yuf'alu bii walaa bikum in attabi'u illaa maa yuuhaa ilayya wamaa anaa illaa nadziirun mubiinun
««•»»
Katakanlah: "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul- rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan".
««•»»
Say, ‘I am not a novelty among the apostles, nor do I know what will be done with me, or with you. I just follow whatever is revealed to me, and I am just a manifest warner.’
««•»»

Setelah Allah SWT. menerangkan sikap orang-orang musyrikin maka ia memerintahkan Rasul-Nya agar menolak permintaan mereka yang tidak masuk akal itu, seperti minta diturunkan suatu mukjizat menurut keinginan mereka, dengan mengatakan, "Hai orang-orang musyrik, mengapa kamu tidak mempercayaiku sebagai seorang Rasul yang diutus Allah kepada kamu sekalian? Mengapa kamu mengingkari ajaran-ajaran agama yang aku sampaikan yaitu ketauhidan dan adanya hari kebangkitan ? Apakah aku merupakan Rasul Allah yang pertama diutus Allah kepada manusia?. Kamu sekalian mengetahui bahwa aku bukanlah Rasul Allah yang pertama kali diutus Allah kepada manusia. Telah banyak Rasul yang diutus Allah kepada umat-umat sebelum kamu, seperti Ibrahim, Ismail, Musa, Isa dan lain-lain. Aku tidak dapat mendatangkan mukjizat begitu saja bila aku kehendaki. Mukjizat itu datang semata-mata berdasarkan kehendak Allah.

Hanyalah Dia yang mengetahui kapankah saat yang paling tepat untuk mendatangkan suatu mukjizat dan mukjizat apakah yang paling baik didatangkan".

Selanjutnya Allah SWT. memerintahkan agar Rasulullah menyampaikan kepada orang-orang Musyrikin sebagai berikut, "Aku tidak mengetahui sedikit pun apa yang akan dilakukan Allah terhadap diri kita masing-masing di dunia ini, apakah aku harus meninggalkan negeri ini dun hijrah ke negeri lain seperti yang telah dilakukan Nabi-nabi yang terdahulu, ataukah aku akan mati terbunuh seperti Nabi-nabi lain yang mati terbunuh. Demikian pula aku tidak mengetahui apa yang akan ditimpakan kepadamu. Semuanya itu hanya Allah sendiri yang Maha Mengetahui". Dan Rasulullah saw. menegaskan lagi, "Walaupun Allah SWT. telah berjanji akan memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin dan akan mengalahkan orang-orang kafir, memasukkan kaum Muslimin ke dalam surga dan memasukkan orang-orang kafir ke dalam neraka, namun aku sedikit pun tidak mengetahui kapankah hal itu akan terjadi". Dari ayat ini dapat diambil suatu kesimpulan bahwa hanya Allah saja yang mengetahui segala, yang gaib.

Para Rasul dan para Nabi tidak mengetahuinya, kecuali jika Allah memberitahukannya. Karena itu, ayat ini membantah dengan tegas kepercayaan yang menyatakan bahwa para wali mengetahui yang gaib, mengetahui apa yang akan terjadi. Rasulullah saw. sendiri sebagai utusan Allah mengakui bahwa beliau tidak mengetahui hal-hal yang gaib, apa lagi para wali yang tingkatnya jauh di bawah tingkat para Rasul.

Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan imam-imam yang lain, Ummul `Ala' berkata ketika Usman bin Maz'un meninggal dunia, "Engkau telah memperoleh rahmat Allah ya Abu Sa-ib (Abdullah bin Maz`un), Allah Taala benar-benar telah memuliakan engkau (masuk surga)", maka Rasulullah saw. berkata:
وما يدريك إن الله أكرمه أما هو فقد جاء اليقين من ربه وإني لأرجو له الخير، والله ما أدري، وأنا رسول الله، ما يفعل بي ولا بكم. قالت أم العلاء: فوالله ما أزكي بعده أبدا
Dan mana engkau mengetahui bahwa Allah telah memuliakannya?. Adapun dia sendiri, telah mendapat keyakinan dan Tuhannya dan aku benar-benar mengharapkan kebaikan baginya. Demi Allah, aku tidak mengetahui, padahal aku adalah Rasul Allah, apakah yang akan diperbuat Allah terhadap diriku, begitu pula terhadap din kamu semua". Ummul Ala berkata, "Demi Allah. semenjak itu aku tidak pernah lagi menyucikan (memuji) orang buat selama-lamanya".

Dalam riwayat yang lain At Tabrani dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan pula dan Ibnu Abbas tentang ini, tatkala Ibnu Maz'un meninggal dunia, istrinya atau seseorang perempuan berkata:
هنيئا لك غبن مظعون الجنة، فنظر إليها رسول الله صلى الله عليه وسلم نظر مغضب وقال: وما يدريك والله إني رسول الله وما أدري ما يفعل الله بي. فقالت: يا رسول الله صاحبك وفارسك وأنت أعلم، فقال لنا : أرجو له الرحمة ربه تعالى وأخاف عليه ذنبه
.
Kesenangan (surga) bagi engkau, Ibnu Maz'un. Maka Rasulullah saw, menoleh kepadanya dengan pandangan marah dan berkata, "Dari mana engkau mengetahui?". Demi Allah sesungguhnya aku adalah utusan Allah, tetapi aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat Allah terhadapku". Wanita itu berkata, "Ya Rasulullah, dia adalah sahabatmu dan tentara berkudamu dan engkau lebih mengetahui". Maka berkata Rasulullah kepadanya, "Aku mengharapkan ia memperoleh rahmat Allah Taala dan aku khawatir atas dosanya".

Dari keterangan di atas jelaslah bahwa Rasulullah sendiri tidak mengetahui hal yang gaib. Beliau tidak mengetahui apakah sahabatnya Abdullah bin Maz`un yang telah meninggal itu masuk surga atau masuk neraka. Namun, beliau berdoa kepada Allah SWT, agar sahabatnya itu diberi rahmat oleh Allah SWT. Hal ini juga berarti bahwa tidak seorangpun yang dapat meramalkan sesuatu tentang seseorang yang baru meninggal. Rasulullah saw, sendiri tidak mengetahui, apalagi seorang wali atau seorang ulama. Jika ada seorang wali menyatakan bahwa dia mengetahui yang gaib, maka pernyataan itu adalah pernyataan bohong belaka. Rasulullah saw, menjadi marah mendengar orang-orang yang menerka-nerka nasib seseorang yang meninggal dunia sebagaimana tersebut dalam hadis di atas.

Ayat ini memberikan petunjuk kepada kita tentang sikap yang baik dalam menghadapi atau melayat salah seorang teman yang meninggal dunia. Petunjuk itu adalah agar kita mendoakannya dan janganlah sekali-kali meramalkan nasibnya nanti, karena yang mengetahui hal itu hanyalah Allah. Pada akhir ayat ini Allah SWT. memerintahkan agar Rasulullah menegaskan keadaan dirinya yang sebenarnya untuk menguatkan apa yang telah disampaikannya. Dia diperintahkan agar mengatakan, "Wahai orang-orang musyrik! tidak ada sesuatupun yang aku ikuti, selain Alquran yang diwahyukan Allah kepadaku, tidak ada sesuatupun yang aku ada-adakan, semuanya berasal dari Allah Yang Maha Kuasa. Aku hanyalah seorang pemberi peringatan. yang di utus Nya memberikan peringatan kepadamu agar kamu menjaga diri dari siksa dan murka Allah. Aku telah menyampaikan kepadamu bukti-bukti yang kuat yang membuktikan kebenaran risalahku. Aku bukan malaikat. Karena itu, aku tidak dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan manusia.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Katakanlah, "Aku bukanlah rasul yang pertama) atau untuk, pertama kalinya (di antara rasul-rasul) maksudnya aku bukanlah rasul yang pertama, karena telah, banyak rasul yang diutus sebelumku, maka mengapa kalian mendustakan aku (dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak pula terhadap kalian) di dunia ini; apakah aku akan diusir dari negeriku, atau apakah aku akan dibunuh sebagaimana nasib yang telah dialami oleh nabi-nabi sebelumku, atau adakalanya kalian melempariku dengan batu, atau barangkali kalian akan tertimpa azab sebagaimana apa yang dialami oleh kaum yang mendustakan sebelum kalian. (Tiada lain) tidak lain (aku hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku) yaitu Alquran, dan aku sama sekali belum pernah membuat-buat dari diriku sendiri (dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan") yang jelas peringatannya.
««•»»
Say: ‘I am not a novelty, unprecedented, among the messengers, that is to say, [I am not] the first to be sent [by God as His Messenger]. Already many of them have come before me, so how can you deny me? Nor do I know what will be done with me or with you, in this world: will I be made to leave my [native] land, or will I be slain as was done with [some] prophets before me, or will you stone me to death, or will the earth be made to swallow you as [it did] deniers before you? I only follow what is revealed to me, that is, the Qur’ān, and I do not invent anything myself. And I am only a plain warner’, one whose warning is plain.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 8][AYAT 10]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
9of35
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=46&tAyahNo=9&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#46:9