Jumat, 14 Agustus 2015

[046] Al Ahqaaf Ayat 012

««•»»
[046] Al Ahqaaf Ayat 012

Imam Al.Hasan Bashri rahimahullah mengatakan, “Iman adalah ucapan. Dan tidak ada ucapan kecuali harus disertai dengan amalan. Tidak ada ucapan dan amalan kecuali harus dilandasi dengan niat. Tidak ada ucapan, amalan dan niat kecuali harus dilandasi dengan as-Sunnah.” Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1153)
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 11][AYAT 13]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
12of35
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=46&tAyahNo=12&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#46:12

[046] Al Ahqaaf Ayat 011

««•»»
Surah Al Ahqaaf 11

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ
««•»»
waqaala alladziina kafaruu lilladziina aamanuu law kaana khayran maa sabaquunaa ilayhi wa-idz lam yahtaduu bihi fasayaquuluuna haadzaa ifkun qadiimun
««•»»
Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: "Kalau sekiranya di (Al Qur'an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya {1388}. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: "Ini adalah dusta yang lama".
{1388} Maksud ayat ini ialah bahwa orang-orang kafir itu mengejek orang-orang Islam dengan mengatakan: kalau Sekiranya Al Quran ini benar tentu Kami lebih dahulu beriman kepadanya daripada mereka orang-orang miskin dan lemah itu seperti Bilal, `Ammar, Suhaib, Habbab radhiyallahu anhum dan sebagainya.
««•»»
The faithless say about the faithful, ‘Had it been [anything] good, they would not have taken the lead over us toward [accepting] it.’ And since they could not find the way to it, they will say, ‘It is an ancient lie.’
««•»»

Ayat ini menerangkan perkataan orang-orang musyrik Mekah yang lain yang tidak benar tentang Alquran dan orang-orang yang beriman. Perkataan itu mereka ucapkan karena beberapa orang yang mereka anggap miskin, bodoh dan rendah derajatnya seperti Ammar, Suhaib, Ibnu Mas'ud, Bilal, Khabab dan lain-lain telah masuk Islam. Menurut mereka, sesuatu yang benar dan data `ig dari Tuhan itu harus pula diakui kebenarannya oleh orang-orang bangsawan, orang-orang kaya orang-orang terpandang dan orang-orang pembesar. Itulah ukuran kebenaran menurut mereka. Apabila kebenaran itu hanya diakui kebenarannya oleh orang-orang rendah, miskin dan rakyat jelata saja. maka kebenaran itu hanyalah kebenaran palsu saja.

Perkataan mereka itu ialah, "Sekiranya Alquran-yang diturunkan kepada Muhammad itu mengandung kebaikan, tentulah kita orang-orang terpandang. bangsawan dan orang-orang terkemuka ini lebih dahulu beriman kepadanya orang yang rendah derajatnya itu. Sekarang, merekalah yang lebih dahulu beriman dari kita. Hal ini dapat kita jadikan bukti bahwa Alquran itu tidak ada nilainya dan tidak mengandung kebaikan sedikitpun".

Qatadah berkata, "Orang-orang musyrik menyatakan, "Kami lebih perkasa kalau ada sesuatu kebaikan, tentulah kami yang lebih mengetahuinya. Karena kami yang lebih mengetahui, tentulah kami yang menentukannya. Tidak seorangpun yang dapat mendahului kami dalam hal ini. Berhubungan dengan perkataan mereka itu turunlah ayat ini.

Menurut suatu riwayat, ketika kabilah-kabilah Juhainah, Muzainah, Aslam dan Gifar memeluk Agama Islam, berkatalah Bani `Amir, Bani Gatafan dan Bani Asad, "Seandainya agama Islam itu suatu kebenaran, tentulah kita tidak didahului oleh penggembala-penggembala hewan ini".

Menurut Agama Islam, beriman dan bertakwanya seseorang tidak ada hubungan dengan keadaan orang itu bahwa ia kaya atau miskin, bangsawan atau budak, penguasa atau rakyat jelata, berilmu atau tidak berilmu. Setiap orang apapun jenis, bangsa, warna kulit dan tingkatannya dalam masyarakat dapat menjadi seorang Muslim yang beriman dan bertakwa karena pokok iman dan takwa itu adalah kebersihan hati, keinginan mencari kebenaran yang hakiki dan kemampuan mengendalikan hawa nafsu. Kunci semuanya itu adalah hati.

Rasulullah saw bersabda:
ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلح صلح الجسد كله وإذا فسدت فسذ الجسد كله ألا وهي القلب (رواه البخاري ومسلم)
Ketahuilah olehmu bahwa dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging Apabila baik daging yang segumpal itu, baik pula seluruh tubuh dan apabila rusak daging yang segumpal itu, rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa daging yang segumpal itu adalah hati".
(HR. Bukhari dan Muslim).

Sofyan bin Uyainah berkata, "Barang siapa memperbaiki hatinya, Allah akan memperbaiki keadaan lahir orang itu. Barang siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungan orang itu dengan manusia pada umumnya. Barang siapa berusaha beramala untuk akhirat, Allah akan mencukupkan urusan (keperluan) dunianya."

Dari hadis dan keterangan Sofyan bin Uyainah di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pokok pangkal dari semuanya itu adalah hati. Jika hati seseorang telah bersih, benar-benar ingin mencari kebenaran dan tidak lagi dipengaruhi oleh rasa iri dan dengki, tidak lagi memperturutkan hawa nafsu, maka orang itu mudah beriman kepada Allah SWT. apapun jenis bangsa dan warna kulit orang itu. Di sinilah letak kesalahan orang-orang musyrik itu. Menurut mereka orang yang tahu kebenaran itu adalah orang-orang tertentu saja seperti disebutkan di atas.

Rasulullah saw. bersabda,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الناس سواسية كأسنان المشط لا فضل لعربي على عجمي
"Manusia itu sama seperti gigi sisir, tidak ada keutamaan seorang Arab atas orang bukan dari bangsa Arab.
(HR. Ahmad, Lihat Mu'jam mufahras li alfaz el Hadis Nabawi, hal 162, jilid V)

Bahkan Allah SWT. memuliakan semua manusia berdasarkan firman-Nya:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
(QS. Al Israa' [17]:70)
Dan orang yang paling dimuliakan Allah adalah orang-orang yang paling taqwa kepada-Nya.

Allah!WT berfirman.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dan seorang laki laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
(QS. Al Hujuurat [49]:13)

Allah SWT. menjawab perkataan orang-orang musyrik yang salah itu, "Oleh karena orang-orang musyrik itu telah terkunci mati hati, pendengaran dan penglihatannya yaitu dikunci oleh kedengkian dan hawa nafsu mereka, jadinya mereka tidak dapat lagi mengambil petunjuk Alquran, maka mereka menuduh bahwa Alquran itu' adalah kabar bohong, dongeng-dongeng orang dahulu, sihir, diada-adakan oleh Muhammad dan tidak ada artinya sama sekali".

Tuduhan orang-orang musyrik ini diterangkan pula dalam firman Allah:
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا إِفْكٌ افْتَرَاهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ آخَرُونَ فَقَدْ جَاءُوا ظُلْمًا وَزُورًا (4) وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Dan orang-orang kafir berkata, "Alquran ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain, maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kelaliman yang dan dusta yang besar. Dan mereka berkata, "Dongengan dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang".
(QS. Al Furqaan [25]:4-5)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman) sehubungan dengan perihal orang-orang yang beriman, ("Kalau sekiranya beriman) kepada Alquran itu (adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami beriman kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk) yaitu orang-orang yang mengatakan demikian (dengannya) tidak mendapat petunjuk dari Alquran (maka mereka akan berkata, `Ini) Alquran ini (adalah dusta) maksudnya, kebohongan (yang lama.`")
««•»»
And those who disbelieve say of those who believe, that is, [they say] with regards to them: ‘Had it, faith, been [anything] good, they would not have attained it before us’. And since they, the ones [now] speaking, will not be guided by it, that is, [by] the Qur’ān, they say, ‘This, that is, the Qur’ān, is an ancient lie!’
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 10][AYAT 12]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
11of35
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=46&tAyahNo=11&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#46:11

Sabtu, 27 Juni 2015

[046] Al Ahqaaf Ayat 010

««•»»
Surah Al Ahqaaf 10

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَكَفَرْتُمْ بِهِ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى مِثْلِهِ فَآمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
««•»»
qul ara-aytum in kaana min 'indi allaahi wakafartum bihi wasyahida syaahidun min banii israa-iila 'alaa mitslihi faaamana waistakbartum inna allaaha laa yahdii alqawma alzhzhaalimiina
««•»»
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Qur'an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang tersebut dalam) Al Qur'an lalu dia beriman {1387}, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim".
{1387} Yang dimaksud dengan seorang saksi dari Bani Israil ialah Abdullah bin salam. ia menyatakan keimanannya kepada Nabi Muhammad s.a.w. setelah memperhatikan bahwa di antara isi Al Quran ada yang sesuai dengan Taurat, seperti ketauhidan, janji dan ancaman, kerasulan Muhammad s.a.w., adanya kehidupan akhirat dan sebagainya.
««•»»
Say, ‘Tell me, if it is from Allah and you disbelieve in it, and a witness from the Children of Israel has testified to its like and believed [in it], while you are disdainful [of it]?’[1] Indeed Allah does not guide the wrongdoing lot.
[1] Ellipsis; the omitted phrase is, ‘who will be more astray than him who is in extreme defiance.’ See 41:52.
««•»»

Allah SWT. memerintahkan kepada Rasul-Nya agar mengatakan kepada orang-orang musyrik, "Hai orang-orang musyrik, bagaimana pendapatmu seandainya terbukti nanti bahwa Alquran itu benar-benar dari Allah SWT. Dengan kenyataan bahwa tidak seorangpun dapat menandinginya, terbuktilah nanti bahwa Alquran itu bukan sihir dan bukan pula diada adakan sebagaimana yang kamu tuduhkan itu. Akan tetapi, kamu tetap mendustakan dan mengingkarinya, sedangkan ada di antara Bani Israel yang lebih tahu dan lebih berpengalaman serta lebih pintar dan kamu semua mengaku kebenarannya. Apakah yang akan di buat Tuhan terhadapmu ? Bukankah Tuhan akan mengazab kamu karena keingkaran dan kesombongan kamu ini dan Dia tidak akan memberi petunjuk sehingga kamu semuanya akan menjadi orang yang paling sesat di dunia ini?".

Yang dimaksud dengan saksi Bani Israel, ialah Abdullah bin Salam, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Tirmizi, Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawaih dari Abdullah bin Salam sendiri,

Ia menyatakan
نزل في آيات من كتاب الله، نزلت في : وشهد شاهد من بني إسرائيل على نفسه، ونزل في : قل كفى بالله شهيدا بيني وبينكم ومن عنده علم الكتاب
"Allah telah menurunkan ayat-ayat Alquran tentang diriku. Diturunkan, tentang diriku ayat, wa syahida syahidun min Bani Israil `ala mis lihi dan ayat, Qul kafa billahi syahidan baini wa bainakum wa man indahu `ilmul kitab'
(Lihat Tafsir Al Maragi hal. 13, juz 26 jilid IX).

Pernyataan Abdullah bin Salam ini dikuatkan oleh hadis Rasulullah saw:
فقد أخرج البخاري ومسلم وغيرهما عن سعيد بن أبي وقاص قال: ما سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول لأحد يعني على الأرض إنه من أهل الجنة إلا لعبد الله بن سلام وفيه نزلت : وشهد شاهد من بني إسرائيل على مثله
Bukhari, Muslim dan imam-imam yang lain telah meriwayatkan dan Saad bin Abu Waqash, ia berkata, "Aku belum pernah mendengar" Rasulullah saw. mengatakan kepada seorang yang ada di muka bumi ini ia akan masuk surga, kecuali kepada Abdullah bin Salam;

dan berhubungan dengan dirinya turun ayat:
وشهد شاهد من بني إسرائيل على مثله

Dari ayat dan hadis-hadis di atas, dapat dipahami bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani yang benar-benar mengikuti Taurat dan Injil dan mau mengikuti cara-cara berpikir yang benar, pasti akan sampai kepada kesimpulan bahwa Alquran itu benar-benar dari Allah SWT. dan Muhammad saw. itu benar-benar utusan-Nya sebagaimana yang telah dilakukan oleh Abdullah bin Salam itu.

Abdullah bin Salam adalah seorang Yahudi penduduk kota Madinah. Ia mempelajari dan memahami isi Taurat dengan baik. Hasil pemahamannya itu sampai kepada kesimpulan bahwa akan datang nanti Nabi dan Rasul terakhir yang berasal dari Nabi Ibrahim a.s. dan dari anaknya Nabi Ismail a.s, di Jazirah Arab, yang membawa Alquran sebagai kitab yang diturunkan Allah kepadanya. Setelah Rasulullah saw hijrah ke Madinah, Abdullah memperhatikan `sifat-sifat Rasulullah dan ajaran yang disampaikannya berupa ayat-ayat Alquran yang diturunkan Allah kepadanya.

Ia mengamati sikap Rasulullah terhadap sesama manusia dan sikap para pengikutnya yang telah mendalami agama bani itu. Akhirnya ia berkesimpulan bahwa Rasulullah dan ajaran agama yang dibawanya itu mempunyai ciri yang sama dengan yang diisyaratkan Taurat yang telah dipelajari dan diamalkannya. Demikian pula sifat-sifat pengikut-pengikut agama bar! itu. Karena itu, ia menyatakan diri masuk Islam dan mengikuti Rasulullah saw.

Pada akhir ayat ini Allah SWT. menegaskan bahwa orang-orang musyrik itu sebenarnya adalah orang-orang yang sombong dan mengingkari ayat-ayat Allah. Hal ini berarti bahwa mereka telah menganiaya din mereka sendiri. Akibat sikap dan tindakan mereka itu, Allah SWT. tidak lagi memberikan bimbingan dan petunjuk kepada mereka, sesuai dengan Sunatullah bahwa Allah tidak akan memberikan bimbingan dan petunjuk kepada setiap orang zalim. Mereka mendapat kemurkaan Allah di dunia dan di akhirat.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku) ceritakanlah kepadaku, bagaimana pendapat kalian (jika ia) yakni jika Alquran itu (datang dari sisi Allah padahal kalian mengingkarinya) lafal Wakafartum Bihi merupakan jumlah Haliyah (dan seorang saksi dari Bani Israel mengakui kebenaran) yaitu Abdullah bin Salam (yang serupa dengan yang tersebut dalam Alquran) bahwasanya Alquran itu datang dari sisi Allah (lalu dia beriman) yakni saksi tersebut beriman kepada Alquran (sedangkan kalian menyombongkan diri) tidak mau beriman kepada Alquran. Sedangkan Jawab Syaratnya ialah `Bukankah kalau demikian kalian adalah orang-orang yang lalim`, hal ini disimpulkan dari pengertian ayat selanjutnya, (`Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.")
««•»»
Say: ‘Have you considered?, [say:] inform me, what will be your predicament, if it, the Qur’ān, is from God and you disbelieve in it (wa-kafartum bihi, the sentence is a circumstantial qualifier), and a witness from the Children of Israel has [already] testified, this was ‘Abd Allāh b. Salām, to the like of it, that is to say, to it [the Qur’ān], that it is from God, and he, the witness, has believed [in it], while you act with arrogance …’, you are disdainful of faith (the response to the conditional [‘if …’] is given [by implication] in what has been supplemented to it, in other words: ‘Would you not then be [considered] wrongdoers?’; this [understanding of the response] is indicated by [what follows]). Truly God does not guide wrongdoing folk’.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 9][AYAT 11]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
10of35
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=46&tAyahNo=10&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#46:10

[046] Al Ahqaaf Ayat 009

««•»»
Surah Al Ahqaaf 9

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ
««•»»
qul maa kuntu bid'an mina alrrusuli wamaa adrii maa yuf'alu bii walaa bikum in attabi'u illaa maa yuuhaa ilayya wamaa anaa illaa nadziirun mubiinun
««•»»
Katakanlah: "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul- rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan".
««•»»
Say, ‘I am not a novelty among the apostles, nor do I know what will be done with me, or with you. I just follow whatever is revealed to me, and I am just a manifest warner.’
««•»»

Setelah Allah SWT. menerangkan sikap orang-orang musyrikin maka ia memerintahkan Rasul-Nya agar menolak permintaan mereka yang tidak masuk akal itu, seperti minta diturunkan suatu mukjizat menurut keinginan mereka, dengan mengatakan, "Hai orang-orang musyrik, mengapa kamu tidak mempercayaiku sebagai seorang Rasul yang diutus Allah kepada kamu sekalian? Mengapa kamu mengingkari ajaran-ajaran agama yang aku sampaikan yaitu ketauhidan dan adanya hari kebangkitan ? Apakah aku merupakan Rasul Allah yang pertama diutus Allah kepada manusia?. Kamu sekalian mengetahui bahwa aku bukanlah Rasul Allah yang pertama kali diutus Allah kepada manusia. Telah banyak Rasul yang diutus Allah kepada umat-umat sebelum kamu, seperti Ibrahim, Ismail, Musa, Isa dan lain-lain. Aku tidak dapat mendatangkan mukjizat begitu saja bila aku kehendaki. Mukjizat itu datang semata-mata berdasarkan kehendak Allah.

Hanyalah Dia yang mengetahui kapankah saat yang paling tepat untuk mendatangkan suatu mukjizat dan mukjizat apakah yang paling baik didatangkan".

Selanjutnya Allah SWT. memerintahkan agar Rasulullah menyampaikan kepada orang-orang Musyrikin sebagai berikut, "Aku tidak mengetahui sedikit pun apa yang akan dilakukan Allah terhadap diri kita masing-masing di dunia ini, apakah aku harus meninggalkan negeri ini dun hijrah ke negeri lain seperti yang telah dilakukan Nabi-nabi yang terdahulu, ataukah aku akan mati terbunuh seperti Nabi-nabi lain yang mati terbunuh. Demikian pula aku tidak mengetahui apa yang akan ditimpakan kepadamu. Semuanya itu hanya Allah sendiri yang Maha Mengetahui". Dan Rasulullah saw. menegaskan lagi, "Walaupun Allah SWT. telah berjanji akan memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin dan akan mengalahkan orang-orang kafir, memasukkan kaum Muslimin ke dalam surga dan memasukkan orang-orang kafir ke dalam neraka, namun aku sedikit pun tidak mengetahui kapankah hal itu akan terjadi". Dari ayat ini dapat diambil suatu kesimpulan bahwa hanya Allah saja yang mengetahui segala, yang gaib.

Para Rasul dan para Nabi tidak mengetahuinya, kecuali jika Allah memberitahukannya. Karena itu, ayat ini membantah dengan tegas kepercayaan yang menyatakan bahwa para wali mengetahui yang gaib, mengetahui apa yang akan terjadi. Rasulullah saw. sendiri sebagai utusan Allah mengakui bahwa beliau tidak mengetahui hal-hal yang gaib, apa lagi para wali yang tingkatnya jauh di bawah tingkat para Rasul.

Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan imam-imam yang lain, Ummul `Ala' berkata ketika Usman bin Maz'un meninggal dunia, "Engkau telah memperoleh rahmat Allah ya Abu Sa-ib (Abdullah bin Maz`un), Allah Taala benar-benar telah memuliakan engkau (masuk surga)", maka Rasulullah saw. berkata:
وما يدريك إن الله أكرمه أما هو فقد جاء اليقين من ربه وإني لأرجو له الخير، والله ما أدري، وأنا رسول الله، ما يفعل بي ولا بكم. قالت أم العلاء: فوالله ما أزكي بعده أبدا
Dan mana engkau mengetahui bahwa Allah telah memuliakannya?. Adapun dia sendiri, telah mendapat keyakinan dan Tuhannya dan aku benar-benar mengharapkan kebaikan baginya. Demi Allah, aku tidak mengetahui, padahal aku adalah Rasul Allah, apakah yang akan diperbuat Allah terhadap diriku, begitu pula terhadap din kamu semua". Ummul Ala berkata, "Demi Allah. semenjak itu aku tidak pernah lagi menyucikan (memuji) orang buat selama-lamanya".

Dalam riwayat yang lain At Tabrani dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan pula dan Ibnu Abbas tentang ini, tatkala Ibnu Maz'un meninggal dunia, istrinya atau seseorang perempuan berkata:
هنيئا لك غبن مظعون الجنة، فنظر إليها رسول الله صلى الله عليه وسلم نظر مغضب وقال: وما يدريك والله إني رسول الله وما أدري ما يفعل الله بي. فقالت: يا رسول الله صاحبك وفارسك وأنت أعلم، فقال لنا : أرجو له الرحمة ربه تعالى وأخاف عليه ذنبه
.
Kesenangan (surga) bagi engkau, Ibnu Maz'un. Maka Rasulullah saw, menoleh kepadanya dengan pandangan marah dan berkata, "Dari mana engkau mengetahui?". Demi Allah sesungguhnya aku adalah utusan Allah, tetapi aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat Allah terhadapku". Wanita itu berkata, "Ya Rasulullah, dia adalah sahabatmu dan tentara berkudamu dan engkau lebih mengetahui". Maka berkata Rasulullah kepadanya, "Aku mengharapkan ia memperoleh rahmat Allah Taala dan aku khawatir atas dosanya".

Dari keterangan di atas jelaslah bahwa Rasulullah sendiri tidak mengetahui hal yang gaib. Beliau tidak mengetahui apakah sahabatnya Abdullah bin Maz`un yang telah meninggal itu masuk surga atau masuk neraka. Namun, beliau berdoa kepada Allah SWT, agar sahabatnya itu diberi rahmat oleh Allah SWT. Hal ini juga berarti bahwa tidak seorangpun yang dapat meramalkan sesuatu tentang seseorang yang baru meninggal. Rasulullah saw, sendiri tidak mengetahui, apalagi seorang wali atau seorang ulama. Jika ada seorang wali menyatakan bahwa dia mengetahui yang gaib, maka pernyataan itu adalah pernyataan bohong belaka. Rasulullah saw, menjadi marah mendengar orang-orang yang menerka-nerka nasib seseorang yang meninggal dunia sebagaimana tersebut dalam hadis di atas.

Ayat ini memberikan petunjuk kepada kita tentang sikap yang baik dalam menghadapi atau melayat salah seorang teman yang meninggal dunia. Petunjuk itu adalah agar kita mendoakannya dan janganlah sekali-kali meramalkan nasibnya nanti, karena yang mengetahui hal itu hanyalah Allah. Pada akhir ayat ini Allah SWT. memerintahkan agar Rasulullah menegaskan keadaan dirinya yang sebenarnya untuk menguatkan apa yang telah disampaikannya. Dia diperintahkan agar mengatakan, "Wahai orang-orang musyrik! tidak ada sesuatupun yang aku ikuti, selain Alquran yang diwahyukan Allah kepadaku, tidak ada sesuatupun yang aku ada-adakan, semuanya berasal dari Allah Yang Maha Kuasa. Aku hanyalah seorang pemberi peringatan. yang di utus Nya memberikan peringatan kepadamu agar kamu menjaga diri dari siksa dan murka Allah. Aku telah menyampaikan kepadamu bukti-bukti yang kuat yang membuktikan kebenaran risalahku. Aku bukan malaikat. Karena itu, aku tidak dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan manusia.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Katakanlah, "Aku bukanlah rasul yang pertama) atau untuk, pertama kalinya (di antara rasul-rasul) maksudnya aku bukanlah rasul yang pertama, karena telah, banyak rasul yang diutus sebelumku, maka mengapa kalian mendustakan aku (dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak pula terhadap kalian) di dunia ini; apakah aku akan diusir dari negeriku, atau apakah aku akan dibunuh sebagaimana nasib yang telah dialami oleh nabi-nabi sebelumku, atau adakalanya kalian melempariku dengan batu, atau barangkali kalian akan tertimpa azab sebagaimana apa yang dialami oleh kaum yang mendustakan sebelum kalian. (Tiada lain) tidak lain (aku hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku) yaitu Alquran, dan aku sama sekali belum pernah membuat-buat dari diriku sendiri (dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan") yang jelas peringatannya.
««•»»
Say: ‘I am not a novelty, unprecedented, among the messengers, that is to say, [I am not] the first to be sent [by God as His Messenger]. Already many of them have come before me, so how can you deny me? Nor do I know what will be done with me or with you, in this world: will I be made to leave my [native] land, or will I be slain as was done with [some] prophets before me, or will you stone me to death, or will the earth be made to swallow you as [it did] deniers before you? I only follow what is revealed to me, that is, the Qur’ān, and I do not invent anything myself. And I am only a plain warner’, one whose warning is plain.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 8][AYAT 10]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
9of35
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=46&tAyahNo=9&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#46:9

Selasa, 26 Mei 2015

[046] Al Ahqaaf Ayat 008

««•»»
Surah Al Ahqaaf 8

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَلَا تَمْلِكُونَ لِي مِنَ اللَّهِ شَيْئًا هُوَ أَعْلَمُ بِمَا تُفِيضُونَ فِيهِ كَفَى بِهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
««•»»
am yaquuluuna iftaraahu qul ini iftaraytuhu falaa tamlikuuna lii mina allaahi syay-an huwa a'lamu bimaa tufiidhuuna fiihi kafaa bihi syahiidan baynii wabaynakum wahuwa alghafuuru alrrahiimu
««•»»
Bahkan mereka mengatakan: "Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (Al Qur'an)". Katakanlah: "Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tiada mempunyai kuasa sedikitpun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu. Dia lebih mengetahui apa-apa yang kamu percakapkan tentang Al Qur'an itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antaramu dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
««•»»
Do they say, ‘He has fabricated it?’ Say, ‘Should I have fabricated it, you would not avail me anything against Allah. He best knows what you gossip concerning it. He suffices as a witness between me and you, and He is the All-forgiving, the All-merciful.’
««•»»

Di samping menuduh Muhammad saw sebagai tukang sihir, orang orang musyrik itu juga menuduh beliau sebagai orang yang suka mengada adakan dan mengatakan yang bukan-bukan tentang Allah. Karena itu, Allah SWT. memerintahkan kepada Muhammad saw untuk membantah tuduhan itu dengan mengatakan, "Seandainya aku berdusta dengan mengada-ada atau mengatakan yang bukan-bukan tentang Allah, seperti mengatakan, "Aku adalah seorang Rasul Allah yang diutus-Nya kepadamu untuk menyampaikan agama Nya" padahal sebenarnya aku bukanlah seorang Rasul, tentulah Allah SWT. menimpakan azab yang sangat berat kepadaku dan tidak seorang pun di muka bumi ml yang sanggup menghindarkan daku dari azab itu. Mungkinkah aku mengada-adakan sesuatu dan mengatakan yang bukan-bukan tentang Allah dan Alquran dan menjadikan diriku sebagai sasaran azab Allah, padahal tidak seorangpun yang dapat menolongku dari padanya?"

Ayat ini sama artinya dengan firman Allah SWT.:
وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ (44) لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ (45) ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ (46) فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ
Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami. Niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dan kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu.
(QS. Al Haqqah [69]:44-47)

Dalam akhir ayat ini Rasulullah saw. menegaskan kepada orang-orang musyrik bahwa Allah Maha Mengetahui segala tindakan, semua perkataan dan celaan mereka terhadap Alquran, misalnya mengatakan sihir, syair, suatu kebohongan dan sebagainya; karena itu Dia akan memberi pembalasan yang setimpal. Allah SWT. cukup sebagai saksi tentang kebenaranku menyampaikan agama-Nya kepada kamu sekalian dan Allah SWT. menjadi saksi pula tentang keingkaran serta sikap kamu yang menolak kebenaran.

Selanjutnya Allah SWT. memerintahkan agar Muhammad mengatakan kepada orang-orang musyrik itu demikian, "Walaupun demikian sikapmu terhadap Allah hai orang-orang musyrik, demikian pula sikapmu terhadap Rasul-Nya, terhadap Alquran yang disampaikan kepadamu. namun pintu tobat terbuka bagimu dan Allah akan menerima tobatmu asal kamu benar-benar bertobat kepada-Nya dengan berjanji tidak akan durhaka lagi dan tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan dosa yang lain karena Dia Maha Pengampun lagi tetap memberi rahmat kepada orang-orang yang bertobat dan kembali kepada-Nya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Bahkan) lafal Am di sini mempunyai makna sama dengan lafal Bal dan Hamzah yang menunjukkan makna ingkar (mereka mengatakan, "Dia telah mengada-adakannya") maksudnya, Alquran itu. (Katakanlah, "Jika aku mengada-adakannya) umpamanya (maka kalian tiada mempunyai kuasa mempertahankan aku dari Allah) dari azab-Nya (barang sedikit pun) artinya, kalian tidak akan mampu menolak azab-Nya daripada diriku, jika Dia mengazab aku (Dia lebih mengetahui apa-apa yang kalian percakapkan tentangnya) tentang Alquran itu. (Cukuplah Dia) Yang Maha Tinggi (menjadi saksi antaraku dan antara kalian dan Dialah Yang Maha Pengampun) kepada orang yang bertobat (lagi Maha Penyayang") kepada orang yang bertobat kepada-Nya; karena itu Dia tidak menyegerakan azab-Nya kepada mereka.
««•»»
Or (am has the significance of bal, ‘nay, but …’ and the [rhetorical interrogative] hamza of denial) do they say, ‘He has invented it?’, that is, the Qur’ān. Say: ‘If I have invented it, hypothetically [speaking], still you would have no power to avail me against God, that is to say, against His chastisement, in any way, in other words, you would not be able to ward it off from me if God chooses to chastise me. He knows best what you delve into [of gossip] concerning it, what you say about the Qur’ān. He, exalted be He, suffices as a witness between me and you. And He is the Forgiving, to the one who repents, the Merciful’, to him, and so He does not hasten to punish you.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 7][AYAT 9]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
8of35
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=46&tAyahNo=8&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#46:8

Jumat, 24 April 2015

[046] Al Ahqaaf Ayat 007

««•»»
Surah Al Ahqaaf 7

وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
««•»»
wa-idzaa tutlaa 'alayhim aayaatunaa bayyinaatin qaala alladziina kafaruu lilhaqqi lammaa jaa-ahum haadzaa sihrun mubiinun
««•»»
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang menjelaskan, berkatalah orang-orang yang mengingkari kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka: "Ini adalah sihir yang nyata".
««•»»
When Our manifest signs are recited to them, the faithless say of the truth when it comes to them: ‘This is plain magic.’
««•»»

Ayat ini menerangkan sikap orang-orang musyrik ketika Rasulullah saw. membacakan ayat-ayat Alquran kepada mereka. Mereka mengatakan, "Ayat ayat Alquran itu adalah sihir yang dibacakan oleh Muhammad sebagai tukang sihir". Tukang sihir memang biasa mengada-adakan kebohongan dan menyihir orang lain untuk mencapai maksudnya. Dalam ayat yang lain diterangkan tuduhan orang-orang musyrik terhadap Alquran bahwa Alquran itu adalah mimpi yang kalut yang diada-adakan dan Muhammad adalah seorang penyair.

Allah SWT. berfirman:
بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ فَلْيَأْتِنَا بِآيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ الْأَوَّلُونَ
Bahkan mereka berkata (pula), "(Alquran itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagaimana Rasul-rasul yang telah lalu diutus".
(QS. Al Anbiyaa [21]:5)

Orang-orang musyrik menuduh Muhammad sebagai tukang sihir karena menurut mereka, Abul Walid pernah disihirnya. Maka oleh karena pengaruh sihir Muhammad itu, ia menyatakan kekagumannya terhadap ayat-ayat Alquran yang dibacakan Rasulullah kepada mereka.

Pada suatu ketika, sebelum Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, para pemimpin Quraisy telah berkumpul untuk merundingkan cara menundukkan Rasulullah. Setelah mereka berbincang-bincang, akhirnya mereka sepakat mengutus Abul Walid, seorang sastrawan Arab yang jarang ada bandingannya waktu itu kepada Rasulullah, untuk meminta kepada Rasulullah agar berhenti menyampaikan risalahnya. Sebagai jawaban, Rasulullah membaca surah 41 (Fussilat) dari awal sampai akhir. Abul Walid terpesona mendengar pembacaan ayat itu, ia termenung memikirkan ketinggian isi dan keindahan gaya bahasanya. Kemudian ia langsung kembali kepada kaumnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Rasulullah.

Setelah Abul Walid kembali, ia ditanya oleh kaumnya tentang hasil usahanya, mereka heran, mengapa Abul Walid bermuram durja. Abul Walid menjawab, "Aku telah datang kepada Muhammad dan ia menjawab dengan membacakan ayat-ayat Alquran kepadaku. Aku belum pernah mendengar kata-kata yang seindah itu. Tetapi perkataan itu bukanlah syair, bukan sihir dan bukan pula kata-kata ahli tenung. Sesungguhnya Alquran itu ibarat pohon yang daunnya rindang, akarnya terhunjam ke dalam tanah, susunan kata-katanya manis dan enak didengar. Alquran itu bukanlah kata-kata manusia. Ia adalah tinggi dan tidak ada yang dapat mengatasinya.

Mendengar jawaban Abul Walid itu, kaumnya menuduh Abul Walid telah berkhianat dan cenderung menyukai kepada agama Islam karena telah kena sihir oleh Muhammad saw.

Dari sikap Abul Walid setelah mendengar ayat-ayat Alquran dan sikap orang-orang musyrik Quraisy itu kepada Abul Walid, dapat diambil kesimpulan bahwa sebenarnya hati mereka telah mengakui kebenaran Alquran, telah mengagumi isi dan gaya bahasanya, namun ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk mengucapkan dan menyatakan kebenaran itu. Abul Walid seorang mengagumi dari gaya bahasanya, namun ada suatu yang menghalangi yang mereka banggakan keahliannya dalam sastra dan bahasa Arab selama ini tidak berkutik sedikit pun dan terpesona mendengarkan ayat-ayat Alquran. Bagaimana halnya dengan mereka yang jauh lebih rendah pengetahuannya dari Abul Walid? Karena tidak ada suatu alasan pun yang dapat mereka kemukakan dan untuk menutupi kelemahan mereka, maka mereka langsung saja menuduh bahwa Alquran itu adalah sihir yang berbentuk syair dan Muhammad itu adalah tukang sihir yang menyihir orang dengan ucapan-ucapan yang berbentuk syair.

Dalam ayat yang lain, diterangkan bahwa sebab-sebab yang mendorong orang orang musyrikin, tidak mau mengakui kebenaran Alquran sekalipun hati mereka sendiri telah mengakuinya, ialah kefanatikan mereka terhadap kepercayaan nenek moyang mereka.

Allah SWT. berfirman:
بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ
Bahkan mereka berkata, "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.
(QS. Az Zukhruf [43]:22)

Di samping kefanatikan ini, mereka juga khawatir akan tergesernya kedudukan mereka sebagai pemimpin suku atau kabilah, seandainya mereka menyatakan isi hati mereka.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan apabila dibacakan kepada mereka) kepada penduduk Mekah (ayat-ayat Kami) yakni Alquran (yang menjelaskan) atau yang jelas keadaannya (berkatalah orang-orang yang ingkar) di antara mereka (kepada kebenaran) kepada Alquran (ketika kebenaran itu datang kepada mereka, "Ini adalah sihir yang nyata") jelas sihirnya.
««•»»
And when Our signs, the Qur’ān, are recited to them, namely, [to] the people of Mecca, being clear signs, manifest [signs] (bayyinātin is a circumstantial qualifier), those who disbelieve, from among them, say of the truth, that is, the Qur’ān, when it comes to them, ‘This is plain sorcery!’, clear and evident [sorcery].
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 6][AYAT 8]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
7of35
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=46&tAyahNo=7&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#46:7

[046] Al Ahqaaf Ayat 006

««•»»
Surah Al Ahqaaf 6

وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ
««•»»
wa-idzaa husyira alnnaasu kaanuu lahum a'daa-an wakaanuu bi'ibaadatihim kaafiriina
««•»»
Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.
««•»»
When mankind are mustered [on Judgement’s Day] they will be their enemies, and they will disavow their worship.
««•»»

Ayat ini menerangkan keadaan orang-orang musyrik di akhirat nanti dan berhala-berhala yang mereka sembah Pada saat semua man usia telah dibangkitkan dari kubur dan berkumpul untuk berhisab, maka berhala-berhala, dewa-dewa dan sembahan-sembahan yang lain yang mereka sembah selain Allah itu mengingkari perbuatan orang-orang musyrik yang menyembah mereka dengan mengatakan, "Kami tidak pernah memerintahkan agar mereka menyembah kaini, kami tidak mengetahui apa yang mereka lakukan terhadap kaini, bahkan kami tidak mengetahui sedikitpun bahwa mereka telah menyembah kami karena kami ini adalah benda-benda mati, tidak dapat melihat, mendengar, berkata, apalagi memperkenankan doa-doa orang-orang yang berdoa kepada kami.

Firman Allah SWT. yang searti dengan ini, ialah:
وَقَالَ إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةَ بَيْنِكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ
Berkata Ibrahim, "Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu semhah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di Hari Kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu melaknati sebahagian (yang lain) dan tempat kembalimu ialah neraka dan sekali-kali tak ada bagimu para penolong pun.
(QS. Al Ankabut [29]:25)

Dan firman Allah SWT.:
وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا  •  كَلَّا سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا
Mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.
(QS. Maryam [19]:81-82)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan apabila manusia dikumpulkan pada hari kiamat niscaya sesembahan-sesembahan itu) berhala-berhala itu (terhadap mereka) yang menyembahnya (menjadi musuh mereka dan sesembahan-sesembahan itu terhadap penyembahan) para penyembahnya (ingkar) menyangkalnya.
««•»»
And when mankind are gathered, they, the idols, will be enemies to them, to those who had worshipped them, and they will deny, they will disavow, their worship, the worship of those who had worshipped them.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 5][AYAT 7]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
6of35
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=46&tAyahNo=6&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#46:6